Namanya simple, sederhana dan mudah diingat panggil saja GARASI sesuai dengan sejarah awalnya. Burung ini dari awal kami simpan di salah satu garasi kami yang terpisah dari rumah induk, untuk mengingatkan si perawat burung supaya jangan lupa memberi makan, menanyakan bagaimana kesehatan dan sebagainya kami tidak ketinggalan selalu menyebutnya kata “garasi” ini.

Burung tersebut kami peroleh dari kiriman seorang sahabat di Aceh yang namanya sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan penggemar murai batu (ciri khasnya: berkumis tebal, pasti sudah pada tahu kan?), belum pernah berprestasi tetapi Beliau wanti-wanti untuk serius memeliharanya. Asal tahu saja sampai hari inipun kami tetap memeliharanya dengan baik bahkan sangat baik, pesan Beliau kita ibaratkan seperti pesan Mbah Kewod kepada para customernya.

Ternyata GARASI ini memang memiliki suara yang khas yaitu crecetanya yang super tajam seperti silet dan bawa lagunya panjang-panjang, kami bersyukur mendapatkan burung ini yang berasal dari Lepung-Aceh, tetangga desa Keudebieng (salah satu wilayah terfavorit murai batu diAceh). Usia burung sampai hari ini sekitar 3 kali mabung.

Garasi

Garasi

Garasi3
Garasi4

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081395407415, 087727505831 dan 085733695959

3 Comments

  1. untuk indukan kenapa tidak memakai yg hasil breeding jg?? Hasil dari breeding jg ga kalah oke kan dgn tangkapan hutan?? Atau mungkin memakai indukan dari hasil breeding SKL lalu indukannya (tangkapan hutan) di lepas kembali ke alam bebas.
    Hanya masukan.. Agar para peternak tidak hanya memikirkan keuntungan semata tetapi kelestarian murai di habitatnya.
    Regards.

  2. @Arief, wouw ide pemikiran yang cemerlang…Orang2 seperti ini yang di tunggu2 komentarnya supaya kami, sbg penangkar burung khususnya murai batu, tidak di klaim sbg penangkar yg idealis atau pahlawan yang kesiangan. Begini Om Arief…pemikiran kesitu sebetulnya kami sudah ada tetapi butuh proses, mungkin proses yang cukup panjang, sebagai contoh yang gampang (asal tahu saja) saat ini burung murai batu (MB) adalah jenis burung lomba yang paling di gandrungi pelomba di Jagat Nusantara ini jadi untuk tahap awal kami sebagai penangkar harus bisa memilih/menyortir indukan2 yang berkualitas untuk ditangkarkan, salah satu penyortiran yang paling gampang yah membelinya langsung dilapangan tapi terus terang penyortiran model kayak gini membutuhkan kantong yang tebal, nah murai-murai yang berkualitas inilah yang kita tangkarkan supaya kelak keturunannya berkualitas juga. Kalau anakannya berkualitas otomatis animo peminat juga besar yang berdampak memasarkannya juga lebih gamapang kan. Langkah ini saja sebetulnya sudah membantu kelestarian murai dihabitatnya kan. Nah pertanyaan Om Arief kenapa SKL BF tidak menggunakan indukan hasil breeding? Maaf…tidak diberi tahupun kami sudah mengambil langkah tersebut, yah siapa orangnya, termasuk saya, yang mau mengeluarkan uang untuk terus menerus BELANJA murai2 indukan? He…he. Untuk pertanyaan terakhir apakah mungkin SKL BF menerbangkan indukan2 hasil tangkapan hutannya untuk diganti dengan hasil tangkaran sendiri, terus terang saya masih manusia BIASA jadi pemikiran saya pun masih sebatas biasa, mengikuti nalar manusia saja. Kalau kita lepas lagi dialam bebas sana apakah ADA JAMINAN burung murai tersebut tidak akan ditangkap/dipikat oleh orang lain??? Lain halnya kalau Pemerintah kita menyediakan hutan lindung untuk satwa2 tersebut, wong dihutan lindungnya saja masih marak terjadi ilegal logig, itu pohon2 wujudnya kan jauh lebih besar dari pada burung tapi Pemerintah kita masih suka kecolongan kok. Kami sudah survei ke beberapa tempat habitat murai misalnya Aceh dan Bohorok-Sumatera Utara, hasil survei kita beraneka ragam. Sebagai contoh saja ada beberapa grup tukang pikat burung yang memang bener2 untuk menafkahi kehidupan keluarganya hanya tergantung dari hasil tangkapan burung masing2 kepala kelarganya, sungguh ironis kalau kita bandingkan dengan kehidupan yang berlangsung di Ibu Kota. Maaf Mas Arief…sekarang kalau kami mau berpikir idealis : siapa yang akan bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup mereka sedangkan disisi lain Pemeritah kita setiap tahunnya hanya bisa melaporkan bahwa angka persentase kemiskinan di Indonesia semakin berkurang, apakah Pemerintah kita pernah berkunjung keseluruh pelosok Indonesia dan melihat langsung kehidupan rakyatnya disana??? Yah…jadinya penjelasan kami ngelantur kemana-mana. Patut disyukuri bahwa burung MB bisa ditangkarkan, bisa dibayangkan apa jadinya kalau sebaliknya…pasti akan jauh lebih cepat punah. Perlu diketahui saja bahwa SKL BF sudah menyiapkan beberapa Generasi Penerus dari hasil tangkarannya sendiri dari beberapa Kandang Unggulan yang dimilikinya untuk dikawin silangkan. Wassalam…

  3. saya fikir ada dua hal yang secara realitasnya bertolak belakang, gagasan ideal yang tadi diutarakan oleh mas arif itu sebetulnya hal yang ideal, namun di satu sisi sebenarnya ada kondisi realitas yang memprihatinkan, baik secara konservasi kefaunaan dan secara sosi ekonomi masyarakat, melakukan penangkaran adalah hal yang positif sebab perlu mental dan motivasi yang cukup kuat untuk melakukan hal itu mengingat resiko-resiko yang akan dihadapinya, selain itu saya fikir juga yang paling penting adalah prinsipnya mengenai yakni melakukan penangkaran adalah bagian dari upaya konservasi sebab sudah sangat sulit untuk dapat mengembalikan lagi murai batu khususnya seperti sedia kala, banyak faktornya antara lain hutan yang semakin gundul, pertumbuhan manusia disekitaran hutan, faktor bencana alam pun tak terhindarkan, oleh karena itu perlu upaya penangkaran dan kita tidak bisa berfikir positivisme yang menganggap kalau kita lepaskan murai batu ke hutan kemudian aman supaya bisa berkembanga, kenyataannya tidak seperti itu, hari ini kita lepas, besok sudah ditangkap orang, ya yang penting ada langkah kongkrit buat upaya konservasi fauna yang hampir punah, untuk menggugah kesadaran ini pun masih sangat sulit di zaman serba instan seperti sekarang ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *