Barusan kemarin malam kami berkenalan by phone saja tetapi perbincangan kami seputar murai batu sudah sangat intim seolah-olah kami sepasang sahabat yang sudah lama tak bersua, yah begitu lah kami sesama Kicaumania kalau sudah terdampar ke thema burung seperti botol ketemu tutupnya. Sahabat DADAKAN kami yang tinggal di salah satu Kepulauan Natuna bernama Muchlis menceritakan keberadaan MB disana hingga begitu serunya sampai-sampai saya mempunyai niatan untuk segera terbang kesana.

Masih menurut ceritanya, sampai tahun 2001 burung murai batu berkeliaran berterbangan disana ibaratnya di tanah Jawa sih kita melihat burung gereja yang gampang ditemui dimana-mana, jadi setiap kita berjalan sejauh 100 meter di hutan sana bisa di jumpai 7 bahkan sampai 10 pasang burung murai batu. Saya sampai ngiler mendengarnya seperti melihat sajian kolak pisang menjelang buka Puasa.

“Lha sekarang keberadaannya gimana Mas Muchlis?” saya tanya balik.

“Waduh jauh berbeda sekali Pak, kita berjalan kaki menelusuri hutan ber bukitan mulai start dari jam 07.00 sampai jam 15.00 hanya menjumpai sekitar 5 pasang murai batu saja” jawabnya, kalau menurut saya sih masih relatif cukup banyak juga.

Posisi Pulau Natuna ini ada ditengah-tengah antara Kepulauan Riau dan Pulau Kalimantan, jadi saya tanya apakah karakter MBnya mengikuti type MB Sumatera atau MB Kalimantan (Borneo) yang dadanya menggelembung sewaktu action?

“Persis mengikuti MB Sumatera Pak, jadi yang jelas dadanya tidak menggelembung seperti MB Borneo?” jawabnya dengan tegas.

Katanya…sekitar tahun 2000/2001 pernah ada kejadian warga pendatang tertangkap basah mau membawa keluar burung murai sebanyak 600 ekor dari Kepulaun tersebut tetapi beruntung aksinya ini tercium oleh pihak yang berwenang setempat sehingga burung-burungnya disita dan diterbangkan kembali langsung dari pelabuhan Kepulauan tersebut, tapi sebelumnya si pemilik burungnya sempat eyel-eyelan/ngotot tidak mau memberikannya kepada pihak yang berwenang. Berani juga tuh si Empunya burungnya, alasan dia lumayan primitif juga sih : “Saya sudah banyak mengeluarkan uang dan capek-capek menangkapnya masak iya sekarang mau diterbangkan lagi Pak?”, lha di suruh siapa nangkap segitu banyaknya??? He…he.

Anda berminat? Gampang ditempuhnya kok, dari Batam bisa di tempuh waktu perjalanan sekitar 1 hari naik ferry atau 2 jam naik pesawat. Sesampainya disana kita naik mobil menuju pelabuhan lainnya dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam kemudian selanjutnya dilakukan penyeberangan lagi dengan naik ferry membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 jam lagi, akhirnya sampailah kita di salah pulau yang konon masih lumayan banyak dan terbaik burung murai batunya versi disana yaitu Pulau Tiga. Semua waktu tempuh perjalanan belum terhitung ngaretnya keberangkatan ferry atau tingginya gelombang di perairan sekitar sana. Semoga selamat sampai tujuan dan tidak kurang sesuatupun juga…..Amin.

Gambar-Gambar MB Milik Mas Muchlis

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081395407415, 087727505831 dan 085733695959

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *