Seperti yang sudah diulas sebelumnya bahwa proses menjodohkan murai, bertelur sampai dengan menetasnya bukanlah hal yang sulit karena burung murai adalah mahluk hidup yang mempunyai kebutuhan seperti kita manusia. Jadi janganlah terlalu senang atau puas dulu jika sampai tahapan menetas sudah tercapai karena justru tahapan finishingnya yang lebih rumit (itu menurut pengalaman kami).

Maksud Tahapan Finishing disini adalah proses membesarkan anakan murai semenjak menetas sampai usia 3 bulanan atau usia yang menurut kami layak untuk dilempar kekonsumen, baik itu hasil loloh indukan maupun hasil lolohan manusia. Dalam tahapan ini jangan kaget jika tiba-tiba anakan murai mati mendadak tanpa menunjukan gejala-gejala yang mencurigakan, terus terang sampai hari inipun kami masih berkutat mengatasi masalah-masalah dalam tahapan finishing ini yang sayangnya penyakitnya selalu update setiap waktu. Maklum kami hanyalah penangkar autodidak yang tanpa didasari atau dibekali ilmu-ilmu akademis yang ada, jadi hanyalah berdasarkan pengalaman belaka.

Begitu banyak ragamnya penyakit burung (yang dimaksud disini bukan Flu Burung) mulai dari diare, bulu njegrak/merinding, nafsu makan hilang, mata bengkak, kaki pengkor, gangguan saluran pernafasan, nafas terengah-engah sampai bulu rontok diusia dini 1 bulanan. Kebetulan SKL BF berdomisili disuatu daerah tingkat kecamatan saja sehingga sangat sulit ditemukan Dokter Hewan apalagi Dokter Hewan yang spesialis menangani burung.

Kami ceritakan problem ini jangan sampai membuat nyali penangkar baru menjadi ciut, justru kami ceritakan dari awal supaya kita siap mental untuk menghadapinya dan tidak menjadi gampang putus asa jika kasus ini suatu hari sampai menimpa kita. Prinsipnya LEGOWO saja karena ini kan hanya kesenangan semata jadi jangan sampai kesenangan kita ini justru membuat hati kita galau, itu namanya bukan kesenangan/hobi lagi tetapi penyiksaan terhadap diri kita sendiri.

Jadi kalau sutau hari ada anakan murai kita yang mati mendadak anggap saja itu bukan/belum  milik kita, itu sudah risikonya kita bermain dengan barang bernyawa/burung diantaranya bisa mati, terbang atau bahkan dicuri orang.

Tetapi bukan berarti kita menyerah begitu saja tanpa adanya upaya-upaya, masalah-masalah ini bisa kita antisipasi atau setidaknya diminimalisirkan dengan tindakan-tindakan diantaranya :

1. Untuk lolohan manusia, kita angkat anakan murai dari sarangnya diusia 7-9 hari setelah itu kita loloh dengan full kroto dicampur air hangat matang dengan sedikit voor sampai usia 8 hari, frekuensi pemberian makannya setiap satu jam sekali. Setelah melewati 8 hari porsi voor bisa kita tambahkan. Yang terpenting disini adalah makanan harus steril, fresh. Untuk mempertahankan makanan yang fresh ini adalah masalah yang agak pelik karena dijaman sekarang ini sudah sangat susah untuk mendapatkan kroto yang segar setiap harinya kecuali kita mempunyai Tim Pemburu Kroto sendiri atau kita menangkarkan sendiri semut penghasil kroto. Sudah banyak artikel yang mengulas tentang cara memberi makan anakan burung jadi kami pikir tidak perlu lagi diulas ulang disini.

Kroto yang sebagian sudah basih akan menimbulkan penyakit diare pada siburung, ibarat balita yang pencernaannya masih sangat sensitiv. Untuk anakan yang diloloh indukannya tidak perlu kita bahas lagi karena indukan murainya sudah lebih pintar sendiri dari kita. He…he.

2. Penghangatan yang cukup, bisa memakai inkubator bisa juga dengan full kerodong.

3. Yang terpenting kita harus selalu memperhatikan dengan jeli perilaku setiap anakan burung jadi apabila disuatu hari ada perubahan perilakunya karena terserang suatu penyakit kita sudah bisa mendeksinya sedini mungkin sehingga bisa diambil tidakan yang memadai.

Anakan murai dibawah usia satu bulanan masih sangat rawan atau risiko tingkat kematiannya masih tinggi, agak mendingan jika sudah mencapai usia dua bulanan, lebih aman apabila sudah berusia diatas tiga bulanan. Atau bila memungkinkan memberikan vaksinasi secara rutin untuk setiap burung peliharaan kita.

Pada intinya kita harus lebih cermat dalam tahapan finishing ini, persis sama halnya dengan mengerjakan suatu bangunan tahapan finishing adalah tahapan pekerjaan yang memang memerlukan waktu yang relativ lebih lama dan ketelitian kerja yang tinggi.

Kami sangat berharap semakin banyak saja orang yang tertarik dan tentunya berhasil sukses menangkarkan murai batu. Amin…..to be continued…

 

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081395407415, 087727505831 dan 085733695959

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *