Seperti yang pernah kami ulas bahwa, menangkar burung murai batu itu tidaklah sesulit seperti yang banyak dibayangkan orang, tetapi memang memerlukan kesabaran yang tinggi. Apanya yang susah??? Wong tinggal menjodohkannya saja terus ditinggal pergi, setelah beberapa hari atau minggu yang betina kita lepaskan, kemudian setelah beberapa hari lagi kita lepaskan yang jantannya.

Jika tidak akur kita pisahkan lagi, kalau ternyata sudah akur, yah Alhamdulillah…nah dimana susahnya??? Ada yang bertanya, kalau masih dibantai terus gimana Pak? Yah tinggal dijodohkan ulang saja, kalau masih tetep tidak jodoh yah tinggal diganti MB betinanya saja, jadi dimana susahnya lagi???

Bab yang susah adalah, kesabaran untuk menunggu sampai sepasang murai tersebut berproduksi setelah berjodoh, ada yang cepat langsung berproduksi, tetapi ada yang ngetem dulu. Nah disini kadang penangkar pemula pada bertumbangan, padahal kuncinya ditinggal pergi saja, dilupakan, dan jangan sering sering-sering dilihat saja.

Setelah berhasil berproduksi tahapan yang memerlukan kesabaran lagi adalah, finishing membesarkan anakannya, kadang disini banyak masalah yang timbul misal, anakan yang tiba tiba sakit mendadak, diare, nafas tersenggal senggal dan lain lainnya. Itu masalah yang harus kita hadapi seperti permasalahan dalam kehidupan kita sehari hari.

Yang tidak kalah mengesalkan adalah, ketika sepasang MB kita ngetem bertelurnya atau macet berproduksinya. Kalau saya sih tak cuekin saja, EGP (Emangnya Gue Pikirin ). Prinsipnya gampang saja : “Hai burung…kamu sudah saya kasih pasangan yang cantik, tetapi tidak kamu kawinin yah sorry bukan salah aku.”

Saya sudah mengalami hal yang terparah yaitu, MB asal Ujung Pancu milik saya awalnya berproduksi normal, tetapi setelah mabung dia sama sekali tidak mau kawin lagi. Pasangannya selalu dicuekin saja, padahal itu istrinya sebelum dia mabung. Kerjaannya cuman melamun saja seperti orang yang sedang membahas nomer Togel, pokoknya menjengkelkan sekali.

Saya ganti pasangannya dengan yang perawan, eh tetep saja dicuekin, mulai geramlah hati ini. Tetapi cepat cepat saya mengendalikan diri, resepnya gampang saja yaitu, saya lupakan saja tuh MB yang nyebelin. Tidak terasa waktu berjalan sampai sembilan bulan terlewatu, jadi MB itu akhirnya memasuki masa mabungnya lagi. Hhmm…

Membutuhkan waktu tiga bulan untuk menyelesaikan masa mabungnya itu, eh malah siburung berubah warna menjadi blorok. Coba bayangkan tidak terasa waktu sudah berjalan satu tahun lebih tanpa keturunan dari siburung, dia hanya menghabiskan waktunya untuk makan dan tidur saja.

Setelah recovery dari masa mabung saya jodohkan lagi dengan MB betina hasil tangkaran sendiri, ternyata tanpa diduga duga di kotak sarangnya sudah ada telurnya dan sekarang sudah menetas. Apa yang kami ceritakan disini adalah pengalaman pribadi dan perjalanan yang panjang, bahkan sangat panjang menunggu seekor MB yang macet berproduksi.

Disarankan kepada sesama penangkar MB, jangan gampang putus asa dan yang terpenting jangan mengejar target untuk bisa cepat-cepat mengembalikan modal, karena kalau hal yang satu ini dijadikan salah satu modal dasar pemikiran kita menangkarkan burung murai batu, maka kita akan banyak menemui kekecewaan dan akan cepat menjadi frustasi.

Semoga sharing ini bisa bermanfaat untuk menambah pengalaman kami sesama penangkar murai batu. Amin…

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081395407415, 087727505831 dan 085733695959

7 Comments

  1. Nice share.

  2. setujuuu…boss

  3. mantab boss…. tq pencerahannya.

  4. Wah mantap nih .

  5. Se 7

  6. Hahaha..message yg dalem..tapi di balut kata2 yg membuat tersenyum yg bacanya…two thumb..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *