Menghadapi kenyataan binatang peliharaan kita yang tiba tiba mati mendadak adalah suatu kenyataan yang paling tidak mengenakan di hati. Kadang butuh proses beberapa waktu seperti halnya saat kita mengalami putus cinta. He…he, tetapi memang begitulah kenyataannya.

Ada seorang rekan saya yang hobi memelihara anjing, pada suatu hari anjingnya kena diare dan selang sehari mati. Wah itu orang sampai makan dan tidurpun selalu tidak enak, kebetulan dia seorang Agen Asuransi yang sudah mendapat gelar kehormatan “MDRT” yang berarti omsetnya sudah sangat diperhitungkan sekali dan sangat ampuh sekali dalam melobi customer atau calon calon customernya tetapi menghadapi kenyataan pahit yaitu ditinggal mati anjing kesayangannya dia menjadi lumpuh total. Bukan lumpuh secara physik melainkan lumpuh dalam menjalankan roda perekonomiannya.

Dia sempat kehilangan beberapa calon customer potensialnya, saya yang saat itu rekan dekatnya berkomentar : “Eh sadar kamu tuh, masak iya ditinggal seekor anjing saja sampai mabuk kliyengan begini”.

“Kamu gampang saja ngomong nanti kalau kamu mengalaminya sendiri silahkan ceritakan perasaan kamu dan saya gantian yang akan menjadi pendengar setiamu”, dia menjawab singkat saja. Iya yah kita yang tidak mengalaminya sih santai santai saja seperti lantun salah satu lagunya Bang Haji Rhoma Irama itu.

Eh bener saja apa yang dia omongin itu, begitu saya mulai mempunyai hobi yang ada kaitannya dengan barang bernyawa, dalam hal ini burung MB, dan tiba tiba ditinggal mati burung andalan saya, wualaaahhh Bro memang ora kepuenak sama sekali.  Amit amit jabang bayi…

Beruntung saya sudah mempersiapkan mental jauh jauh hari sebelumnya untuk menghadapi kenyataan pahit ini karena burung saya ini sakitnya sudah sebulan sebelum sampai menemui ajalnya dan beruntung lagi karena sebelumnya saya pernah hobi berternak ayam Bangkok yang problemnya tidak jauh jauh seperti memelihara burung yaitu menghadapi kenyataan terpahit ditinggal mati ayam kesayangan saya.

Seperti saat ini, terus terang saya juga sama sedang galau menghadapi kematian burung burungku, ada yang terserang tetelo, ada yang terserang saluran pernafasannya, ada yang mati mendadak, pokoknya macam macam lah. Karena sudah kebal menghadapi kenyataan pahit yah diusahakan enjoy saja lah, habis mau gimana lagi??? Segala macam obat mulai dari yang termurah sampai yang termahal sudah kami coba semua, juga saran dan hasil sharing dengan rekan rekan sesama hobi sudah dijalankan semua.

Ada seorang rekan kami yang berkomentar katanya, PASTI ada yang salah, yah tentunya dalam kehidupan kita ini pasti ada yang salah kita jalani, wong namanya juga kita masih manusia biasa. Samapi sampai tak omong rekan saya yang sok pintar itu, “Ok, saya pasrahkan penangkaran saya ini kepada kamu dan kamu minta bayaran berapa tetapi kalau sampai ada yang mati saya potong bayaran kamu”. Eh dianya KEOK kayak ayam Bangkok yang kalah berlaga itu. He…he.

Pesan saya hadapi semua kenyataan hidup ini, baik yang menyenangkan maupun yang sebaliknya. Jangan sampai kita terpukul KO atau menderita yang berkepanjangan karena sesuatu hal, hal apapun juga. Kan ada moto setiap permasalahan pasti ada penyelesaiannya, tinggal menunggu waktunya saja.

Sekarang sih saya pribadi sudah sangat terbiasa menghadapi kematian burung burungku karena mungkin saking seringnya kali, jadi jangan dikira SKL BF itu enak enakan saja. Justru karena burung kami banyak otomatis tingkat kematiannyapun lebih tinggi. Diatas langit masih ada langit, begitu juga dengan burung, diatas burung bagus masih ada burung yang lebih bagus .

Perlu diingat masih banyak sesama kita manusia yang menderita lebih dari kita, sebagai contoh TASRIPIN anak usia 12 tahun di Kabupaten Banyumas yang harus merangkap menjadi bapak dan ibu ketiga adik adiknya karena ditinggal mati ibunya dan bapaknya yang berkerja sebagai buruh kasar kelapa sawit di Kalimantan. Atau seorang ibu yang harus menghadapi kenyataan anaknya yang masih balita yang terserang kanker kepala atau juga permasalahan yang pelik yang dihadapi Eyang Subur dengan Adi Bing Slamet yang tak kunjung menemukan penyelesaiannya??? Apakah mereka enak enakan saja, saya rasa tidak ada yang merasa enak. Jadi kita masih harus bersyukur dikaruniai permasalahan HANYA ditinggal mati burung peliharaan kita. Setuju Bro???

Semoga sharing ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Mohan maaf  bila ada kata atau kalimat yang kurang berkenan, yang jelas kami tidak bermaksud apa apa. Amin…

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081395407415, 087727505831 dan 085733695959

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *