Banyak mitos seputar burung murai batu yang mempengaruhi dalam kriteria memilih seekor burung idaman kita. Ada yang fanatik memilih MB yang berkaki hitam karena dipercaya memiliki mental fighter yang tinggi, ada yang mengidolakan MB dengan paruh bercelahnya, atau kuku jari belakang yang berwarna putih semua. Atau ada pula, termasuk saya sendiri, yang berangan-angan memiliki MB yang batangan kakinya berbulu karena dipercaya sebagai MB penguasa wilayah.

Yaahhh…segala sesuatunya jika yang berkaitan dengan mitos memang terasa ada sesuatu yang diharapkan tetapi setelah mengenal atau menyortir banyak MB dan berinteraksi langsung dengan pemikat ataupun pelomba sejati, saya pribadi berusaha untuk terjaga dari mimpi indah seputar mitos MB ini.

Coba perhatikan dengan cermat katuranggan MB-MB jawara sejati jika Anda ada kesempatan untuk melihatnya baik secara langsung maupun hanya sekedar melalui foto ataupun videonya. Apakah mayoritasnya atau ada yang berkaki hitam? Apakah juga paruhnya bercelah? Atau bahkan kakinya sampai berbulu? Terus terang saya pribadi sudah tidak yakin lagi dengan pendapat seputar mitos tersebut.

Justru kita hanya terjebak pada harga MB yang tinggi saja karena kita sengaja mencari dan ingin memiliki MB yang memiliki ciri-ciri mitosya tersebut, dan hal ini mudah tercium oleh pemilik MBnya sehingga sengaja menawarkannya dengan harga yang relativ tinggi. Para pelomba sejati tidak mau pusing dengan mitos-mitos MB ini, bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana dengan kinerja burung tersebut di lapangannya. Mereka tidak perduli ekornya panjang atau pendek, atau warna bulunya pirang dan sebagainya. Jika dicermati, ternyata pikiran mereka sangat simple sekali.

Terus terang saya pribadi adalah penggemar MB berkaki hitam tetapi saya hanya suka dari penampilan physiknya yang lebih keren saja. MB berkaki hitam juga bisa luntur lho, coba full kerodong terus menerus untuk jangka waktu yang lama atau di tangkarkan pada ruangan indoor, warna hitamnya lama kelamaan akan pudar. Tetapi jika MB tersebut kembali dipelihara intensiv maka warna hitam pada kakinya akan muncul lagi.

Setelah kami banyak berkelana langsung ke habitatnya MB dan mendapatkan beberapa MB penguasa wilayah ternyata semuanya tidak ada yang memiliki ciri-ciri seperti mitos seputar MB itu. Yang mereka miliki hanya aura yang memang kharismatik saja, terutama sorot matanya yang memang tajam lain dari pada yang lain. Seperti kita berjumpa dengan preman papan atas, bagaimanapun aura mereka berbeda.

Mungkin ada yang bertanya jadi patokannya apa untuk bisa mendapatkan MB bakalan yang bagus? Kita utamakan katuranggan si burungnya, misal body burung yang harus proportional karena ini erat kaitannya dengan stamina burung untuk mencapai durasi kerja yang maksimal, terutama ketika dia sedang berlaga. Sama seperti kita melihat seorang athelet, kayaknya tidak ada pemain single bulutangkis yang badannya (maaf…) gemuk, pendek. Lihat saja Lee Chong Wei, Lin Dan, Taufik Hidayat full otot dan proportional. Kalau badannya seperti saya, pertama sih ok bisa nyemash tapi sepuluh menit kemudian pasti gembos. He…he.

Kemudian sorot mata dan auranya, ini bagian yang sangat penting. Gampang dibedakan aura John Kei dengan Raffi Ahmad bukan?

Mudah mudahan sharing singkat ini bisa membantu rekan-rekan sesama Kicaumania.

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081220072191, 087727505831 dan 085733695959

2 Comments

  1. Met sore Pak Haji,
    Terimakasih utk pencerahannya
    Betul sekali bhw kita sering terjebak pada asumsi-asumsi belaka, seharusnya yg selalu menjadi acuan bagus atau jelek MB itu adalah katuranggan si MB tsb

    Wassalam
    Setyo

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>