Sesuai namanya RAMBO, burung ini memang jagoan di wilayah hutan di NAD, tepatnya di salah satu hutan bebukitan Jantho – Aceh Besar. Kami sudah lama mendengar berita mengenai murai batu ini sewaktu kami berkunjung ke Aceh pertama kali. Saat itu kami hanya melihat salah satu anakannya yang dijadikan burung pikat oleh pemiliknya yang berprofesi sebagai tukang pikat MB.

Konon anakannya ini sudah sangat berjasa kepada pemiliknya karena sudah banyak sekali menggaet burung murai batu terperangkap pada alat jerat sang majikannya. Tetapi kami tidak tertarik dengan burung pikat ini karena terkesan bersifat jinak. Saat itu kami tanyakan dimana keberadaan dan bagaimana karakter (fighter), volume dan typikal suara bapaknya di alam bebas sana.

“Wuah, dahsyat Bang. Aku sendiri belum pernah melihat model MB seperti dia, tetapi sangat sulit ditangkap. Jadi yang kami tangkap hanya anakan-anakannya saja. Istrinya ada 4 ekor tersebar di hutan bukit seberang sana.” cerita tukang pikatnya kala itu. Diam-diam hati saya tertarik untuk memiliki bapakannya ini. Jadi saya order saja kepadanya, jika kapan-kapan burung tersebut tertangkap agar segera menghubungi kami.

Hampir setahun kami menunggu kabar darinya tetapi tidak ada kabar beritanya, nomer handphonenya juga terakhir sampai hilang entah kemana karena saya sudah beberapa kali ganti handphone. Eh… suatu hari si tukang pikat itu menelpon saya untuk menawarkan burung-burung murai hasil tangkapannya. Saya sendiri sudah lupa akan suaranya, tetapi dasar masih jodoh sehingga kami masih bisa saling berkomunikasi kembali.

Terus terang saya menolak semua murai batu hasil tangkapannya karena di penangkaran kami masih terdapat murai-murai (maaf !!!) yang lebih baik dari yang ditawarkannya. Terakhir-akhir ini terus terang kami sudah tidak begitu getol hunting MB lagi jika bukan MB-MB yang spesial. Akhirnya saya tanyakan bagaimana dengan keberadaan MB Jagoan di hutan yang dulu pernah dia ceritakan.

“Yang mana yah Bang?” tanya dia balik.

“Bapakannya burung pikat kamu,” jawab saya.

“Oh yang itu Bang…” timpal dia. Akhirnya dia bercerita bahwa MB tersebut sudah tertangkap oleh rekannya yang biasa menangkap burung murai daun atau cukcak hijau, tanpa disengaja. Jadi suatu hari rekannya itu memasang jaring di wilayah kekuasaan MB tersebut untuk memikat burung murai daun/cukcak ijo lalu dia tinggalkan begitu saja, begitu dia kembali beberapa jam untuk mengontrol jaring perangkapnya ternyata yang tertangkap malah seekor murai batu yang sudah tampak kelelahan.

Si pemikat murai daun ini tampak kebingungan apa yang harus dia lakukan karena dia tahu bahwa yang ditangkapnya ini adalah satu-satunya burung murai batu jantan yang masih berkeliaran di bukit hutan itu. Dan diapun tahu bahwa murai inilah yang dicari-cari banyak orang, terutama oleh rekan dekatnya itu.

Pemikat murai daun itu kebingungan apakah membawa pulang murai ini atau dilepaskan lagi, dia merenung sejenak…akhirnya mengambil keputusan untuk membawa pulang burung murai ini. Dasar pertimbangannya sederhana saja yaitu ini merupakan rejeki dan haknya, jadi mengapa harus ditolak dan burung-burung yang berterbangan di alam bebas sana tidak ada pemilik tetapnya kecuali Allah SWT meskipun dia sebenarnya adalah aslinya pemikat burung murai daun. Memang tepat dasar pemikirannya, siapapun yang berhasil menangkapnya itulah pemiliknya.

Pakem inipun berlaku bagi burung piaraan rumahan yang tiba-tiba terbang lepas dari tangan pemiliknya, siapapun yang berhasil menangkapnya itulah pemilik barunya. Hanya berdasarkan pertimbangan rasa kemanusiaan saja si pemilik barunya bisa menyerahkan burung tangkapannya itu kepada pemilik lamanya, tentunya dengan kesepakatan-kesepakatan diantara keduanya alias uang tebusan.

Nah bagaimana dengan burung-burung yang berterbangan bebas di alam liar sana? Apakah ada atau bolehkah seseorang mengaku burung-burung tersebut adalah miliknya? Yah jelas tidak ada aturan yang mengaturnya. Atas dasar pertimbangan yang sederhana inilah akhirnya si pemikat burung murai daun itu membawa pulang burung murai jagoan ini. Diapun tidak perlu laporan kepada rekannya yang notabene asli pemikat burung murai batu bahwa si RAMBO tertangkap olehnya. Tetapi namanya manusia, suatu saat dia bertemu dengan rekannya, pemikat MB itu, dan akhirnya berceritalah apa yang dia alami.

“Yah…itu adalah rejekimu,” jawab rekannya, pemikat murai batu itu, dengan legowo.

Si pemikat MB ini akhirnya bercerita apa adanya kapada saya, tetapi dia tidak memberi tahu siapa yang mendapatkan burung murai RAMBO ini. Tak apalah, karena itu adalah haknya juga. Dan inilah seninya bagi kami untuk mencari tahu siapa gerangan pemikat burung murai daun itu. Tidak lebih dari satu hari kami mendapatkan namanya melalui cara kontra intelegent versi kami. He…he. Agak over dosis kali istilahnya.

Setelah kami bertatap muka dengan pemikat burung murai daun ini, dia menceritakan bahwa burung tersebut sudah dijualnya ke orang Banda-Aceh, kami kejar sampai ke Banda-Aceh, tentunya dengan membawa tukang pikat murai daun ini untuk bisa mengidentifikasi burungnya. Sesampainya di Banda-Aceh kami mendapat kabar yang kurang mengenakan hati karena burung tersebut sudah dijual kepada suadaranya di Medan yang juga seorang pengepul burung.

Kami tidak putus asah, kami minta tolong pengepul di Banda-Aceh itu untuk mengontak saudaranya yang di Medan. Dia siap membantu. Setelah mereka berkomukasi, akhirnya didapat kabar bahwa murai itu masih belum dijual oleh saudaranya di Medan karena RAMBO ini ternyata lain daripada yang lain yaitu saat paket tiba di Medan dan dibuka tidak menunggu sehari atau bahkan hitungan jam RAMBO sudah nembak-nembak atau mengeluarkan suara ngeplong-ngeplong. Makanya burung RAMBO ini tidak langsung dijual lagi oleh pemilik barunya.

Dengan membawa serta situkang pikat murai daun ini kami meneruskan petualangan si BOLANG ke Medan. Sesampainya di Medan kami langsung menuju ke rumah pengepul burung itu, ternyata si pemikat murai daun ini masih mengenal sangat baik ciri-ciri physik RAMBO terutama suaranya karena kebetulan saat itu si RAMBO sedang dijemur di depan toko pengepulnya.

“Ini Bang burungnya,” sontak pemikat murai daun mengagetkan saya begitu sampai di depan toko burung di Medan.

“Yakin?” tukas saya.

“Yakin, 120% Bang!” tegasnya. “Buat apa saya bohong, kan saya pun sama-sama belum mengenal pemilik tokonya Bang!” ujarnya meyakinkan.

Setelah saya amati dari kejauhan memang RAMBO ini memiliki beberapa keistimewaan, terutama mental dan suaranya. Jadi misalkan si RAMBO ini bukan jagoan hutanpun sepertinya saya tetap akan meminangnya. He…he. Dasar mata burung, tidak akan puas mengoleksi burung jika melihat burung-burung cantik. Penampilan physiknya sangat mengagumkan, badan panjang dan ngejantung pisang, sangat athletis (foto paling atas). Yang sangat menarik adalah bukaan paruhnya yang sangal lebar, ciri khas volume MB yang dahsyat (foto paling atas). Kepala besar dan batok kepalanya lebar diatas rata-rata, pertanda mental fighternya sangat tinggi (foto paling bawah). Sorot matanya tajam dan typikal MB Penguasa Wilayah adalah gampang dijodohkan karena (maaf !!!) di hutannya punya istri lebih dari satu alias doyan kawin. Jadi di tempat kamipun dia sudah berproduksi meskipun belum lama kami masukan ke dalam kandang ternak.

Memang sudah jodoh kami, Alhamdulillah…dengan kesepakatan deal yang cepat akhirnya RAMBO ini bisa kami miliki. Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung kami untuk mendapatkan murai RAMBO ini, terutama kepada Allah SWT yang telah mengijinkan kami untuk merawatnya. Amin…

 

jk RAMBO DSC03860 SKL BF jk RAMBO DSC03866 SKL BF jk RAMBO DSC03867 SKL BF jk RAMBO DSC03872 SKL BF jk RAMBO DSC03873 SKL BF jk RAMBO DSC03865 SKL BF

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081220072191, 087727505831 dan 085733695959

4 Comments

  1. Mantaps Pak Haji….

  2. mantap pak haji…
    Ekor berapa cm pak…

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>