Burung ini mempunyai kisah yang sangat dramatis sekali, berasal dari wilayah Bohorok, Kabupaten Langkat – Provinsi Sumatera Utara. Ketika itu grup pemikatnya , yang berjumlah 4 orang, hanya mendapatkan satu-satunya burung murai batu. Burung ini menurut penuturan pemikatnya bisa dibilang burung lintas blok karena dia bisa bermain melewati wilayah-wilayah MB lainnya tanpa mengenal rasa takut atau mendapat perlawanan dari MB-MB dari wilayah lainnya. Diperkirakan wilayah-wilayah yang dilewatinya milik keturunannya atau anak-anaknya sendiri, atau memang burung ini benar-banar jagoan untuk wilayah tersebut sehingga tidak ada yang berani melarangnya melewati wilayah kekeuasaannya.

Yang jelas burung ini memiliki mental dan suara yang sangat mumpuni, awalnya burung ini pernah saya pelihara untuk tujuan dilombakan tetapi mengingat usianya yang sudah mapan semenjak di hutannya, akhirnya niat tersebut kami urungkan. Seperti yang pernah kami ulas bahwa memelihara MB Bakalan untuk lomba prosesnya sama atau bahkan jauh lebih lama dari pada kita memelihara dari anakan hasil tangkaran.

Perhitungannya begini, MB Bakalan rata-rata memerlukan waktu minimal satu tahun untuk menjadi benar-benar duduk. Jika belum duduk jangan berharap suara-suara masterannya bisa masuk ke memorinya. Setelah menjadi duduk, barulah kita master. Inipun masih berspekulasi antara masuk atau tidaknya suara-suara burung masterannya yang kita sediakan. Memasternya memerlukan waktu minimal 2 kali mabung, jadi kalau dihitung dengan waktu satu tahun yang dibutuhkan untuk membuatnya duduk, totalnya 3 tahun. Lama juga yah? Maka dari itu harga burung murai yang sudah jadi otomatis harganya akan menjadi mahal, apalagi murai Jawara…

Atas dasar pertimbangan diatas tadi akhirnya kami putuskan SLAMET ini ditangkarkan saja, karena akan lebih cepat dan lebih gampang untuk dimasternya jika kita memelihara anakannya. Jika kita betul merawatnya anakan murai usia setahunan sudah rajin bunyi dan suara-suara burung masteran akan jauh lebih mudah untuk diserapnya karena anakan murai hasil tangkaran bisa dibilang hampir tidak ada rasa stresnya.

Lokasi SLAMET ini  memang harus melewati beberapa jurang bebatuan, ketika para pemikat kami dalam perjalanan pulang terjadi musibah dimana salah satu anggota pemikat kami jatuh terperosok kedalam jurang, kebetulan tidak tergelincir lebih dalam lagi karena kebetulan tubuhnya tersangkut pada sebuah batu yang lumayan besar. Karung goni tempat penyimpanan burungpun ikut jatuh dan terlepas dari genggaman tangannya. Mereka sempat mencari-cari kemana gerangan terlemparnya karung goni tadi.

Salah satu dari mereka melihat goni tadi hanyut dibawa arus sungai di dasar jurang, ketiga anggota tukang pikat tadi langsung mengejarnya karena kalau dibiarkan begitu saja kemungkinan lama kelamaan akan tenggelam. Dan memang separuh goni tadi kenyataannya sudah tenggelam dari permukaan air sungai, mereka tidak menghiraukan lagi rekannya yang jatuh kemudian tersangkut batu tadi. Dengan alat bantu kayu yang panjang Alhamdulillah goni tadi bisa digapai, diangkat dan diselamatkan.

Mereka sudah pasrah akan nyawa burung ini karena tubuh si burung sudah nyaris basah kuyup semua. Melihat keadaan burung yang menggenaskan speed berjalan kaki mereka ditingkatkan dengan kecepatan maksimal, agar supaya bisa cepat sampai rumah. Sesampainya di rumah langsung si burung diberi makanan-makanan yang bergizi, salah satunya ulat Hongkong untuk menghangatkan tubuh si burung.

Pada keesokan harinya kondisi burung semakin ngedrop tetapi beruntung dia masih mau makan, dengan penuh kesabaran pemimpin grup pemikat kami menyuapinnya dengan jangkrik. Saya pribadi mengikuti perkembangannya setiap hari via handphone tapi lama-kelamaan hati saya ikut capai juga karena semakin hari tidak ada kemajuan kondisi si burung yang signifikan. Saya pribadi akhirnya ikut pasrah saja.

Selang satu 10 hari saya mendapat telpon dan kabar gembira dari mereka bahwa sekarang si burung sudah bisa makan sendiri lagi.

“Akhirnya burung ini mau makan sendiri tanpa kami suapin lagi Bang,” tutur mereka via handphone.

“Alhamdulillah…,” jawab saya.

Mereka meminta kepada saya agar burung ini dinamakan SLAMET sampai seterusnya untuk mengingat sejarah dan semangat hidupnya, karena tanpa semangat hidup yang besar mustahil kita bisa mengatasi segala masalah yang ada di bumi ini, tentunya dengan RidhoNYA juga.

Dari kejadian ini kita bisa mendapatkan hikmahnya bahwa kalau memang belum kehendakNYA maka segala sesuatunya bisa selamat. Amin…

Yang terpenting kita jangan gampang putus asah menghadapi suatu masalah dan selalu banyak doa kepadaNYA agar selalu dibawah bimbingannya. Tanpa campur tanganNYA si SLAMET ini sudah dipastikan tewas. Posisi burung sudah selalu di bawah saja, berdiripun sudah tidak kuat. Saat itu tukang pikat saya bertutur : “Hanya dengan kemukjijatan dariNYA burung ini bisa hidup Bang, terus terang kami sudah pesimis melihat kondisinya!”

Memang bener-bener mukjijat, bahwa si SLAMET sampai dengan hari ini masih bertahan hidup, normal tanpa cacat, sudah satu tahun lebih, bahkan sekarang sudah mempunyai keturunan. Terima kasih ya Allah atas kemurahan hatiMu. Amin…

k SLAMET DSC04149 SKL BF

k SLAMET DSC04154 SKL BF

k SLAMET DSC04157 SKL BF

k SLAMET DSC04158 SKL BF

k SLAMET DSC04162 SKL BF

k SLAMET DSC04164 SKL BF

 

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081220072191, 087727505831 dan 085733695959

2 Comments

  1. wah…dramatis juga ya ceritanya…mirip novel misteri/petualangan
    kalau dibukukan mungkin saya akan membeli bukunya, hehe

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>