Meskipun sudah mentake over MB PTT SKL BF anakan MONGOLIA SKL 515 dan KING KONG SKL 50 tampaknya Om Bambang Jakarta masih hunting MB untuk disimpan sebagai pelapisnya. Setelah beberapa kali mengamati anakan BOGOTA SKL 633 akhirnya hasrat Om Bambang tidak terbendung lagi. Sebetulnya salah satu anakan BOGOTA yang satu ini adalah burung koleksi saya pribadi, tetapi entah bagaimana kejadiannya SKL 633 ini pernah lepas dari sangkarnya ketika sedang di jemur oleh salah satu perawat burung saya. Beruntung seluruh celah yang terbuka di rumah saya sudah dipasangin kawat ram semua, jadi akhirnya burung tersebut bisa tertangkap lagi, tentunya dengan perjuangan yang sangat gigih dan penuh keringat yang berceceran. He…he.

Setelah tertangkap lagi (jujur) SKL 633 ini mengalami stres yang lumayan berat. Akhirnya saya pindahkan ke penangkaran kembali. Saya selalu berprinsip, jika burung yang sudah pernah lepas terbang dan tertangkap lagi berarti Allah SWT masih sayang dan bermurah hati kepada saya. Konsekuensinya burung tersebut harus saya lepas/jual, otomatis dengan harga yang bersahabat. Sudah beberapa orang yang dulu pernah naksir SKL 633 saya hubungi lagi, apakah mereka masih berminat dengan SKL 633 ini. Setelah mereka melihatnya, komentar mereka selalu sama, yaitu kok jadi begini yah??? Saya jelaskan apa adanya, yaitu musibah yang saya alami. Wajar saja, jika mereka bertanya-tanya, mengapa dulu tidak dijual kok sekarang malah ditawarkan?

Sampai akhirnya saya mengenal Om Bambang, dan saya tawarkan juga SKL 633 ini untuk harga yang sangat bersahabat sekali. Tetapi memang kenyataanya saat itu tampilan SKL 633 kurang menarik sekali, leher selalu ditekuk seperti burung ketakutan. Bahasa tubuh Om Bambang memberi kesan bahwa dia kurang suka dengan SKL 633 ini. Dan memang kenyataanya begitu, akhirnya Om Bambang justru meminang salah satu anakan MONGOLIA SKL 515 yang lebih mahal dan anakan KING KONG SKL 50.

Tidak jelas bagaimana ceritanya, jika ada kesempatan Om Bambang ini selalu singgah di penangkaran kami. Diam-diam Om Bambang selalu mengintip perkembangan SKL 633 ini, tetapi akhirnya pulang begitu saja. Pada kesempatan yang lain Om Bambang singgah lagi, dan kebetulan saat itu saya masih di rumah. Tiba-tiba Om Bambang menelpon saya menyatakan hasratnya yang serius untuk meminang SKL 633 ini.

“Harga sudah berubah Om,” jelas saya, padahal saya belum lihat lagi perkembangan SKL 633 setelah diumbar lepas di salah satu kandang ternak kami. Harga berubah karena memang telah menelan biaya rawatan dan yang jelas hati saya sudah tidak begitu galau lagi ketika SKL 633 baru lepas dan tertangkap lagi, tetapi harganya termasuk masih bersahabat.

Setelah sampai di penangkaran saya menengok SKL 633, walah…walah tembakan Cililinnya berturut-turut dan volumenya sudah kembali normal. Sangat responsiv dan suaranya Pure kristal! Apa boleh buat, saya sudah mengucapkan harganya, harus sportiv. Begitu saya menyambangi Om Bambang, dia langsung menyalami saya sambil berkata Deal dengan harga yang baru itu. Hhmmm…saya masih manusia biasa, jadi tentunya ada rasa gelo/kecewa pada diri sendiri juga, karena memang selama diumbar saya tidak pernah mengontrol perkembangan SKL 633 lagi. Itu sudah rejekinya Om Bambang, dan saya tidak mau memikirkannya lagi. Untung SKL 633 ini bisa tertangkap lagi, kalau terbang lepas yah lebih parah lagi kan? Allah SWT masih selalu memberikan rejeki kepada saya. Amin…

Burung ini lahir pada tanggal 16 Mei 2013, indukan jantannya BOGOTA sudah diboyong Om Sugiyarno GIK BF di Cepu.

 

TO DSC02356 SKL BF

TO DSC02357 SKL BF

TO DSC02360 SKL BF

TO DSC02361 SKL BF

TO DSC02362 SKL BF

TO DSC02350 SKL BF

TO DSC02369 SKL BF

 

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081220072191, 087727505831 dan 085733695959

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>