Selama satu tahunan merawat seekor MB trotolan produk SKL dari trah BIONIC, akhirnya jerih payah SUHADA Karang Ampel terbayarkan dengan moncernya burungnya dalam lomba perdananya. Konon action MBnya sangat dominan mencolok sekali, sehingga menarik perhatian para juri untuk mendekati burungnya, meskipun gantangannya paling pinggir dan paling pojok. Sebulanan yang lalu dia sempat konsultasi dengan saya dan menyatakan keinginannya mau melombakan burungnya ini.

“Pak, kalau saya lombakan minggu depan gimana yah?” tanyanya waktu itu. Saya tanyakan, gimana dengan setingannya.

“Sesuai anjuran dari SKL, yaitu jangkrik 5/5 dan kroto seminggu 3x saja,” jawabnya seadanya.

“Kalau untuk dilombakan setingannya segitu jelas kurang. Jadi jangkrik tetap segitu, tapi pemberian kroto ditingkatkan menjadi setiap hari satu sendok makan,” jelas saya. Sebetulnya saya menjawabnya seadanya saja, karena kebanyakan pemilik burungnya pasti sudah tidak tahan untuk segera melombakannya, meskipun sudah ditahan-tahan.

Eh sebulanan kemudian saya mendapat kabar dari teman saya yang sempat menonton lomba tersebut, bahwa ada burung bagus menjuarai event di Karang Ampel. Dan actionnya sempat memukau para juri, maupun penonton, karena posisinya paling pinggir.

“Sangkarnya juga jelek sekali, sudah agak miring. Kerodongnya juga yang tembus pandang itu,” jelas kawan saya sambil tertawa, karena geli kali. Masih katanya lagi, sudah banyak yang menawar burung itu, tetapi oleh pemiliknya tidak dijual.

“Burung itu milik siapa,” tanya saya.

“Namanya Hada,” jawabnya.

Saya baru ngeh, kalau Hada itu adalah Suhada. Saya sempat terkejut juga, karena ternyata Suhada orangnya konsekuen dan konsisten menuruti anjuran saya. Biasanya sih pemilik burung yang sudah gatel mau melombakannya pasti ditabraknya saja, meskipun sudah berkonsultasi terlebih dahulu. Malah ada Muraimania dari Pekalongan, H. Mustofa, saat itu sempat melombakan burungnya dari anakan Bahamaz (RvP nama burungnya) dalam keadaan ekornya masih ekor trotolan. Padahal saya sempat melarangnya. Ok lah bulu dadanya sudah ganti coklat, tetapi masak iya ekor nya masih belum jatuh kok sudah mau dibawa ke lapangan. Besoknya memberi kabar ke saya, katanya masih masuk tiga besar. Masih sama dari Pekalongan juga, namanya SEGER, yang sempat mengambil seekor trotolan anakan Pemburu SKL 508, yah juga sama katanya sudah sering di lombakan. Padahal menurut rekannya, H. Mustofa, anakan Pemburu itu awalnya sempat mau dilegonya karena katanya banyak diamnya. Lah gimana mau gacor, wong saya menyerahkannya saat itu masih dalam keadaan dorong ekor. Kemudian Mas Segernya sebulan kemudian pernah bertanya kepada saya, apakah burungnya sudah boleh dibawa ke lapangan.

“Waduh, yah jangan dong Mas. Saat saya mengirimkan burung itu kan masih lagi dorong ekor, sudah jelas sebulan kemudian belum tentu sudah tuntas. Kalaupun sudah tuntas, kondisi bulu burungnya masih basah,” jelas saya ke Mas Seger via BBM.

“Oh gitu yah Pak,” jawab Seger saat itu. Menurut rekannya, toh tetap saja dibawanya ke lapangan juga, dan Alhamdulillah tidak masuk nominasi. He…he. Tapi dia puas dengan kinerjanya. Dan setelah itu sampai hari ini, Alhamdulillah katanya sudah sering masuk nominasi. Makanya saya heran dan terkejut dengan sikap Suhada yang konsekuen itu, padahal anakan Bionic menurutnya sudah lama gacor owor-owor di rumahnya. Dia pun sebenarnya sudah lama ingin membawanya ke lapangan, tetapi dia selalu ingat pesan saya.

Jika kita punya MB yang istimewa, justru harus kita sayangi, karena hari gini untuk mendapatkan MB yang bagus selain susah, juga harganya sudah mahal. Dalam prakteknya justru yang terjadi kebalikannya. He…he. Nanti giliran MBnya ngedrop atau mulai matukin bulu barulah mereka mengeluh kepada saya dan mita solusinya. Perlu diketahui saja, jika seekor MB sudah mulai matukin bulu, maka treatmentnya agak ribet. Mengapa ribet? Karena dia harus diisolasikan sendirian dalam satu rumah, jadi bukan dalam satu ruangan saja loh, agar dia tidak mendengar suara MB-MB lainnya. Tetapi hari gini mana ada Muraimania yang hanya memiliki seekor MB saja di rumahnya? Hampir tidak ada, minimal 2 ekor. Nah MB yang matukin bulunya mau diungsikan kemana? Ini ribetnya.

Langkah Suhada ini patut ditiru. Setelah berhasil memoles seekor MB dan sudah tahu buktinya, baru dia melangkah lebih jauh, yaitu dengan mentake over sekaligus 2 ekor MB kami. Yang seekor MB PTT SKL dari anakan CONTADOR SKL 54, dan yang seekornya lagi MB Kopassus SKL yang sedang dorong ekor dari trah BOMBER SKL 651. Sayapun sudah sangat percaya dengan pola rawatnya Suhada.

Mudah-mudahan kedua MB ini bisa mengikuti jejak pendahulunya. Amin…

 

TO DSC04049 SKL BF

TO DSC04050 SKL BF

TO DSC04051 SKL BF

dan

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081220072191, 087727505831 dan 085733695959

6 Comments

  1. anakan pemburu 799 gmna kabarnya pak haji…….sudah pngen rencana q ambil akhir tahun pa haji,,,,,maksih

    • @Sugih, Alhamdulillah, sehat2 selalu Mas Sugih…monggo silahkan.

  2. Sayang penampakany ngk ad pakaji,ngk bsa cuci mata deh,hehe…
    Semoga trah bionicny bs mengharumkan nama SKL BF dan trah pemburu vs bahamaz lancar produksinya

  3. Alhamdullilah….sukses om suhada,lam kenal.

  4. Ass.alhamdullilah om sugih,akhirnya skl 799 akan di jmpt di penghujung tahun…

  5. Alhamdullilah om sugih,atas penantiannya…..
    Akhirnya anakan pemburu 799 akan di jemput

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>