Meneruskan cerita yang kemarin, kami sempat diajak jalan jalan ke Madura oleh Om AKMAL, Owner TARMIN BF Surabaya, untuk melihat lihat orang bertransaksi sapi disana.

Terus terang ini pertama kalinya menginjakkan kaki saya di tanah Madura dan melintasi jembatan Suramadu yang menjadi salah satu kebanggaan karya anak bangsa Indonesia. Dari jembatan Suramadu orang bisa melihat pelabuhan Tanjung Perak, meskipun tampak sangat jauh. Sembari melintasi jembatan tersebut sempat terlintas di benak pikiran saya, berapa lama orang dulu menyeberang dari Surabaya ke Madura dengan menggunakan kapal laut. Yang jelas lebih lama, belum lagi ditambah waktu tunggu datangnya kapal. Dengan menggunakan jembatan Suramadu kita bisa jauh lebih cepat sampai Madura dan sebaliknya.

Berangkat ke Madura pada hari kedua, kami harus bergegas berangkat setelah Subuh, karena jika terlambat sedikit saja maka kita akan terjebak kemacetan di Madura karena pasar sapi itu. Kenyataannya kami terlambat berangkatnya 30 menit dari waktu yang direncanakan semula. Dan benar saja sampai sana kami sudah terjebak kemacetan yang luar biasa di daerah Bangkalan, tempat berlangsungnya pasar sapi.

Terpaksa Om Akmal harus memarkir mobilnya lumayan jauh dari lokasi pasarnya, tapi bagus juga sih sekalian untuk membakar kalori dari apa yang kami makan kemarin malamnya. He…he.

Sampai lokasi pasar sapi waktu menunjukan pukul 06.30an. Meskipun masih pagi tapi pasar sapi disana sudah sangat ramai pengunjungnya. Sebelumnya saya hanya bisa melihat pasar sapi ini melalui televisi saja. Jadi mendapat kesempatan yang seperti ini tentunya kami harus bersyukur sekali dan itu semuanya berkat jasa Om Akmal yang mengajak kami kesana.

Kami sempat dipesani Om Akmal agar jangan sekali kali isengan bertanya soal harga sapi disana, karena mereka bisa tahu membedakan antara orang yang hanya bertanya harga saja dengan orang yang bertanya tapi ada rencana serius untuk bertransaksi. Terpenting lagi, jangan sekali kali menawar, karena kalau si penjual sapi sudah merasa setuju dengan harga penawaran kita dan kita tidak membeli sapi tersebut, maka urusannya bisa sangat runyam sekali. Haadddeehhhh…gawat juga yah bertransaksi sapi itu.

Dari pada kami salah langkah akhirnya kami memutuskan hanya duduk duduk saja di salah satu warung di sana. Kebetulan di warung itu ada sate kambing sehingga kami memutuskan lebih baik sarapan sate kambing saja deh. He…he. Masak iya rejeki ditolak.

Bumbu sate kambing ala Madura memiliki citra rasa tersendiri, terutama rasa pedasnya ini, karena caberawitnya dipotong potong sangat kecil dan diaduk bareng dengan bumbunya. Sekali kita salah menyendok bumbunya dan menyantapnya yah otomatis lidah kita terasa seperti terbakar saja, karena caberawit tadi ikut terkunyah dan ikut termakan oleh kita.

Yang membuat mata saya melongo adalah saat disodorkan nasinya. MasyaAllah…penyajian nasinya dibuat seolah olah menggunung tinggi sehingga tampak banyak sekali dan memang posrinya luar biasa banyaknya, pokoknya tidak umum saja. Melihatnya saja sudah ngeri, tapi yang biasa makan disana habis habis saja, bahkan ada yang minta nambah juga. Ha…ha.

Semakin siang semakin banyak saja pengunjung maupun penjual sapinya. Luar biasa padatnya sehingga untuk berjalan saja sudah sangat susah. Panasnya udara di Madura juga bukan main hebohnya, tapi semuanya tidak terasakan oleh saya, mungkin karena saking asyiknya melihat kegiatan pasar sapi di sana.

Saya juga tidak ketinggalan melihat Om Akmal yang sedang asyik bertransaksi sapi. Transaksinya seperti orang saling memarahi satu sama lainnya. Pokoknya bagi penglihatan mata saya terasa aneh. Orang Madura memang mempuyai temperamet yang sangat tinggi. Kami yang melihatnya saja sudah sangat seru sekali.

Alhamdulillah Om Akmal berhasil bertransaksi 24 ekor sapi. Angka tersebut sudah sangat fantastis bagi saya, tapi kata Om Akmal itu hanya hal yang masih biasa saja. Diakuinya perekonomian tahun ini sedang menurun, pada tahun tahun sebelumnya sekali belanja bisa sampai mencapai angka 50, bahkan 60 ekoran. Patut disyukuri saja karena rejeki kita masih bisa mengalir. Alhamdulillah…

Setelah mendapatkan target yang diinginkan Om Akmal akhirnya kami pulang ke Surabaya lagi pada siang hari, saat itu menunjukan waktu jam 14.30an. Bayangkan berapa jam kami menghabiskan waktu di pasar sapi, tapi kok tidak terasa yah, betah betah saja…

 

Malam harinya kami menyempatkan diri mengunjungi lokasi sapi susu perah Om Akmal. Usaha susu sapi milik Om Akmal ini sudah berdiri sejak lama yaitu semenjak kakeknya. Kunjungan kami ke Surabaya sangat bermanfaat karena kami disuguhi banyak ilmu baru yaitu, mulai dari bagaimana cara bertransaksi sapi sampai bagaimana caranya memproduksi susu sapi murni terbaik. Alhamdulillah…

 

Om Akmal berkaos biru.

 

Lokasi penampungan sapi kurban Om Akmal.

 

Kegiatan di pasar sapi yang kami kunjungi.

 

Kandang penggemukan sapi milik Om Akmal

 

Salah satu sapi perah Om Akmal yang sedang hamil. Diharuskan memiliki anak setahun sekali agar produksi susunya kembali meningkat.

Kita harus selalu haus ilmu dalam segala bidang agar pemikiran kita bisa menjadi lebih kreativ. Hasilnya tidak instan sekarang ini, tapi tanpa disadari sebetulnya kita sedang melatih otak kita agar menjadi lebih baik berkerjanya, apalagi jika usia kita sudah menginjak lebih dari setengah abad. Bayangkan saja apa yang akan terjadi, jika kita hanya berdiam diri di rumah saja? Otak kita lama kelamaan akan menjadi beku kan? He…he.

To be continue…

 

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081395407415, 087727505831 dan 085733695959

3 Comments

  1. BENER2 PEBISNIS SEJATI OM AKMAL NIH, SUKSES SELALU OM AKMAL…

  2. Ajib

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *