Awal perkenalan kami adalah melalui pamannya yang bernama YASIN via selular yang menuturkan bahwa domisilinya di Ponorogo. Pada kesempatan itu Om Yasin menanyakan berapa harga anakan MB produk SKL. Setelah saya sebutkan harganya Om Yasin mengatakan bahwa ia akan menyampaikannya kepada keponakannya. Dari sinilah saya baru tahu bahwa Om Yasin mencari burung MB bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk keponakannya. Sebegitu sayangnya seorang paman terhadap keponakannya. Saluuuttt…

Selang beberapa hari Om Yasin menelpon saya lagi untuk memberitahukan bahwa keponakannya itu setuju dengan harga yang saya beritahukan beberapa hari yang lalu.

“Ok Pak. Keponakan saya setuju dengan harga yang bapak tawarkan kemarin itu, dan akan mengadakan kunjungan ke SKL dalam waktu dekat ini,” kata Om Yasin via handphone.

“Ok Om. Kapan saja, setiap saat silahkan berkunjung ke SKL,” jawab saya.

Seminggu kemudian Om Yasin mengatakan bahwa dirinya sudah merapat mendekati kota Jatibarang. Sayapun kaget atas pemberitahuan tersebut. Saya memandu Om Yasin melalui seluar jalan menuju ke penangkaran kami.

Setelah sampai di penangkaran SKL saya mempersilahkan Om Yasin untuk beristirahat dulu di kamar tamu yang sudah kami siapkan. Saya tidak tahu kalau kedatangan Om Yasin ini membawa rombongan besarnya. Saya tahunya setelah saya tiba di penangkaran dan melihat kendaraan yang dibawanya seperti sejenis mobil travel saja. He…he. Mungkin rekan rekan keponakannya sekalian jalan jalan ke wilayah Jawa Barat.

Akhirnya saya berkenalan dengan keponakannya, WIDAGDO, yang berminat akan anakan MB produk SKL. Dari pembicaraanya Om Widagdo ini tampaknya sebelumnya sudah pernah memiliki beberapa burung Murai Batu. Om Widagdo juga menuturkan bahwa sebetulnya lomba burung di Ponorogo belum seramai seperti yang diharapkannya. Ia sering membawa burungnya ke luar Ponorogo untuk melombakannya. Dari situ sudah nampak semangatnya untuk menjadi pelomba sejati.

Dalam kesempatan ini saya juga bertutur bahwa jangan buru buru melombakan burung Murai Batu yang masih muda usianya. Om Widagdo hanya tersenyum sembari melirik rekan lainnya. Dari sini bisa saya bisa tarik kesimpulan bahwa Om Widagdo dan rekan rekannya termasuk pasukan berani mati dalam melombakan burung. Artinya, yang penting turut serta lomba burung saja. Urusan kondisi burung adalah urusan belakangan. He…he.

Saya sodorkan beberapa ekor burung MB yang sudah mabung dan ada lagi yang masih trotolan. Setelah berunding akhirnya mereka memutuskan untuk mengambil seekor MB jantan dari trah HERMES (F2) yang menyandang ring SKL 1520, lahir pada tanggal 02 Januari 2017.

Kebetulan burung tersebut sedang kami umbar agar birahinya cepat tiba sehingga kami harus menangkapnya dadakan. Om Widagdo khawatir sampai bertanya kepada saya apakah burungnya tidak stres jika ditangkap tangan begitu?

“Apakah burungnya tidak stres kalau kita tangkap tangan begitu saja Pak?” tanya Om Widagdo.

“Kita lihat saja nanti Om,” jawab saya menyakinkannya.

Setelah kita tangkap, burung itu langsung dibawa ke teras penangkaran untuk diamati bersama. Om Widagdo dan kawan kawannya tampak kaget karena burung tersebut masih ngeply ngeply normal seolah olah tidak ada rasa stres yang dialami burung itu. Saya jelaskan bahwa semuanya tergantung dari mental dan karakter masing masing burungnya.

Setelah melihat si burung dari dekat, di dalam sangkar harian, akhirnya Om Widagdo berserta rombongannya berpamitan pulang dengan membawa langsung burungnya.

“Sekalian pamitan saja Pak, karena perjalanan kami masih panjang,” ujar Om Widagdo.

Setelah berfoto bersama rombongan Om Widagdo langsung pulang ke Ponorogo. Mudah mudahan burung tersebut kelak bisa menghibur hati sang majikan barunya. Aamiiinnn…

 

 

 

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081395407415, 087727505831 dan 085733695959

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *