Alhamdulillah muncul lagi seorang penangkar Murai Batu. Om IRWAN Tangerang saat itu menelpon saya untuk bertanya tanya masalah penangkaran MB. Setelah itu Om Irwan menyatakan niatnya untuk menangkarkan MB yang sebetulnya sudah lama dipendamnya. Hanya masalah kesiapan waktu saja yang membuat Om Irwan selama ini menunda niatnya itu.

Saya jelaskan sepintas mengenai penangkaran MB, tapi ternyata Om Irwan sudah mengetahui banyak tentang penangkaran MB dari dunia maya. Itulah kemajuan tekhnologi yang sangat membantu kita, jika suatu saat kita membutuhkan sebuah informasi. Tidak seperti jaman dulu yang semuanya harus dipelajari door to door, tentunya sangat merepotkan sekali.

Saya berusaha menjelaskan bagaimana cara menangkar yang efektiv dan tentunya harus ekonomis, dan langkah langkah apa yang kelak harus kita lakukan dulu. Jadi maksudnya, ada paket hemat dalam memilih indukan jika orientasinya hanyalah mau menangkarkan saja. Tapi ada alternativ lainnya yaitu kita menangkarkan terlebih dahulu MB orientasi lapangan untuk sementara waktu sembari menunggu usia burung tersebut menjadi mapan. Atau istilah lainnya, dikaryakan terlebih dahulu sebelum kelak membawanya ke lapangan. Dan tentunya pasangan model begini harganya lebih mahal.

Ada yang bertanya apakah seekor MB jantan yang pernah ditangkarkan bisa dipakai lagi sebagai MB lapangan? Jelas bisa, asalkan setiap tiba masa mabungnya burung jantan itu dimaster ulang secara intensiv agar isiannya menjadi semakin lebih baik.

Bisa kita bandingkan dengan para jawara MB non ring/hasil tangkapan hutan yang pada saat tertangkapnya sudah berusia dewasa, otomatis di habitatnya sana pasti dia sudah pernah membina keluarga, terbukti mereka masih bisa moncer bahkan menjadi jawara sejati. Itupun ditangkap dari hutan belantara yang tak terbatas luasnya. Kalau sebuah kandang penangkaran luasnya terbatas kan, atau yang jelas tidak seluas hutan belantara. Ini sebuah fakta. He…he.

Hanya saja semuanya ini membutuhkan proes waktu. Tapi, kalau pasangan ini sudah menghasilkan anakan, maka proses waktu tunggu itu bukan berarti apa apa lagi. Kan setidaknya modal utama kita sudah kembali?

Ada lagi yang bertanya, bagaimana kalau belum sampai sana siburungnya mati duluan Pak? Hhhmmm…semuanya bisa saja terjadi. Sekarang saya tanya balik, tapi (amit amit sebelumnya yah)…bagaimana kelak kalau kita membeli sebuah sepeda motor kemudian terjadi musibah? Kalau kita selalu berpikir dengan segala kemungkinan risikonya yah kita tidak akan pernah memiliki sepeda motor kan?

Segala macam jenis usahapun pasti ada risikonya. Misal, bagaimana kalau kita membuka sebuah rumah makan/restauran kemudian tiba tiba rumah makan itu sepi pengunjung, sedangkan kita sudah membeli segala macam kelengkapannya misal piring, sendok garpu, meja dan kursi. Kalau kita selalu berpikir begitu/takut, pastinya kita tidak akan pernah bergerak.

Terpenting, kita harus bisa mengkalkulasikan risikonya yang paling kecil diantara semua usaha yang ingin kita jalankan, karena semuanya pasti akan ada risikonya.

Usaha penangkaran skala rumahan tidak memerlukan karyawan, jadi kalau sampai terjadi apa apa, misal gulung tikar, kita tidak perlu memikirkan harus memPHK seseorang. Kalau kandang ternak kita terbuat dari bahan aluminium, minimalnya masih bisa laku 50% dari harga awal. Jika burungnya pun masih ada, bisa kita jual lagi. Sebetulnya risikonya sangat kecil bukan? Jadi mau tunggu apa lagi?

Kemungkinan Om Irwan sudah memikirkan segala risikonya sehingga keputusannya sudah bulat untuk menjadi penangkar MB. Akhirnya Om Irwan meminang seekor MB jantan trah AK-47 (F2) SKL 1521 yang kelak bisa dipakai sebagai MB lapangan. Mudah mudahan Om Irwan kelak sukses sebagai penangkar MB. Aamiiinnn…

 

 

 

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081395407415, 087727505831 dan 085733695959

2 Comments

  1. Makin rame p haji

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *