Seperti yang kita ketahui apa yang tertuang pada Permen 20/2018 yaitu diantaranya jenis burung Murai Batu dan Jalak Suren termasuk jenis satwa yang dilindungi. Mengapa harus kedua jenis burung ini yang notabene sudah bisa dan sejak lama ditangkarkan secara konvensional? Itu pertanyaan para kicaumania.

Seharusnya burung burung lomba yang belum bisa atau belum sukses ditangkarkan yang dimasukan sebagai satwa yang dilindungi, karena kalau tidak, otomatis para pelaku lomba burung atau penghobi burung akan selalu menangkap burung tersebut dari habitatnya. Ini pemikiran secara logika saja.

Sebelum burung Murai Batu sukses besar ditangkarkan, yaitu di era tahun ’90an para penghobi- dan pelaku lomba burung mayoritas atau bahkan bisa dibilang hampir semuanya hanya menggunakan burung hasil tangkapan hutan. Setelah Murai Batu sukses besar ditangkarkan, di atas tahun 2000, para pelomba burung MB berbondong bondong menggunakan burung MB hasil tangkaran. Mengapa????

Karena MB hasil tangkaran bisa dibilang tidak mengalami stres sama sekali. Mereka dari semenjak kecil sudah terbiasa bersosialisasi dengan kita manusia dan jauh lebih mudah melatih serta memasternya, otomatis jauh lebih mudah mengorbitkannya sebagai burung lomba.

Mengapa anakan burung MB hasil tangkaran jauh lebih mudah dimaster dan kemudian lebih mudah diorbitkan? Karena dia belum memiliki ibu bahasa yang patent, lain halnya dengan MB hutan yang sudah memiliki ibu bahasa yang sudah direkamnya dari semenjak kecil dari habitatnya.

Memiliki burung MB hutan harus berani berspekulasi dengan risiko tingkat kematiannya yang jauh lebih besar, apalagi yang baru ditangkap dari hutan. Dulu penghobi MB mau berspekulasi dengan memiliki MB hutan karena tidak ada jalan lain untuk bisa memiliki burung Murai Batu yaitu hanya dari hasil tangkapan hutan saja.

Sekarang sudah tidak ada lagi yang mau berspekulasi dengan MB hutan karena risiko tingkat kematiannya yang sangat tinggi itu. Burung burung lomba non ring/hutan yang sekarang banyak beredar itu bukan hasil tangkapan baru baru ini, melainkan itu burung burung senior yang sudah lama sekali dirawat. Ada yang sudah berusia 10 tahunan atau bahkan lebih.

Melatih burung MB hasil tangkapan hutan sangat ribet dan memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi. Investasi waktu kita kadang juga sia sia belaka. Membuat MB hutan menjadi duduk itu tidak cukup butuh waktu 3 tahun, dijamin lebih dari itu. Seperti yang sudah diulas di atas tadi yaitu dulu para pelaku lomba burung MB tidak memiliki opsi lain kecuali memelihara atau membeli MB hasil tangkapan hutan.

Sekarang mereka lebih memilih MB MB hasil tangkaran karena burung MB hasil tangkaran jauh lebih cepat jadi. Hanya dalam kurun waktu 1 sampai 1,5 tahun saja kita sudah bisa menikmati alunan suara isiannya. Kalau MB hutan boro boro lah, hidup saja sudah bagus.

Hal ini terbukti dengan semakin menjamurnya penangkar MB dari waktu ke waktunya. Toko toko burung di jalan Bintang Medanpun sudah lama tidak menjual burung MB hasil tangkapan hutan lagi. Ini dikarenakan selain keberadaan burung MB di habitatnya semakin susah didapat juga peminatnya sudah sangat berkurang drastis. Siapa yang mau kehilangan uangnya karena burungnya mati tiba tiba dikarenakan stres beradaptasi dengan lingkungan barunya?

Jadi tanpa dikomandoi oleh Permen 20/2018 para penghobi burung sudah paham betul dengan sendirinya risiko bermain dengan MB hutan yaitu risiko tingkat kematiannya yang sangat tinggi.

Jadi sebetulnya burung burung MB yang masih berada di hutan kondisinya sekarang sudah aman dengan sendirinya. Burung Jalak Suren juga sangat mudah ditangkarkan. Cuman penangkarnya akhir akhir ini jumlahnya semakin menurun karena peminat Jalak Suren sangat terbatas. Hal ini disebabkan karena tidak ada kelas lombanya.

Dan apakah pihak pemerintah tidak memikirkan kelak bagaimana nasib mereka untuk menafkahi keluarganya yang hanya tergantung dari burung burung tersebut, diantaranya para pengrajin sangkar MB dan acsesorisnya, peternak jangkrik yang merupakan pakan utama burung MB. Toko toko penjual kelengkapan burung juga sudah mulai pada resah, terutama yang menjual sangakar MB. Konon dalam sebulan terakhir ini belum ada yang laku satu buahpun juga. Ini akan berdampak pada pengrajin sangkar yang akan kehilangan mata pencahariannya juga.

Burung burung lainnya juga akan terdampak karena faktor ini karena kelak lomba burung akan menjadi sepi. Otomatis omset pabrikan pembuat pakan burung juga akan menurun drastis yang ujung ujungnya pihak Owner pasti cepat atau lambat akan mengurangi tenaga kerjanya, alias memPHK karyawannya. Jelas ini berlawanan dengan etos ekonomi kerakyatan yang sudah digagas pemerintah sebelumnya. Sedangkan program OK OC sendiri belum berjalan maksimal sebagaimana mestinya. Jadi kemana mereka akan berlabuh? Ini dampak sosial ekonomi yang perlu dipikirkan oleh pihak pemerintah jika Permen 20/2018 diterapkan.

Tidak sedikit penghobi burung yang baru memulai membuka penangkaran MBnya dengan memakai uang pinjaman bank. Mereka berkeluh kesah bagaimana harus mengembalikan uang pinjaman tersebut.

Melalui lomba burung kita bisa melepaskan rasa stres kita dengan teriak teriak di lapangan seperti penyayi rock metal, bersilaturahmi dengan rekan rekan kicaumania lainnya. Urusan menang atau kalah itu nomer berapa lah. Bagaimana ke depannya jika lomba burung tidak semarak seperti yang sudah sudah? Kemana kita harus melepaskan rasa stres kita? Ini berakibat pada dampak sosial juga.

Cobalah pihak pemerintah berembuk dangan para pelaku kicaumania untuk bisa menemukan solsusi yang terbaik. Kami hanyalah rakyat jelata yang hanya bisa menjerit dari kejauhan, meskipun begitu kamipun merupakan bagian dari rakyat yang sangat mencintai NKRI ini.

Semoga sharing ini bisa bermanfaat sebagaimana mestinya. Aamiiinnn…

Kontak kami: SklBirdfarm.com, Jalan Ahmad Yani No. 37 – 70 Jatibarang, Indramayu. Telepun: 081395407415, 087727505831 dan 085733695959

7 Comments

  1. Ini berawal dari pemilik Murai Kitaro menolak tawaran 600 juta.. Jadi nya keluar peraturan yang aneh..

  2. Badai sudah berlalu

    • @PP, Alhamdulillah…
      Semuanya berkat kerjasama semua pihak terkait.

  3. Betul pak boss…
    Smg penangkar penghoby pemain peternak jangkrik kroto sangkar dan tukang jual kayu asem tangkringan bisa berdaulat dan merdeka kembali

    • @PP, Aamiiinnn…
      Jangan lupa, para juri, pedagang asongan, buruh pabrik pakan burung dan masih banyak lagi pihak yg terkait sekarang mulai bergairah lagi.

  4. Yups…ayo pak boss jg bergairah utk posting” lg MB produk skl nya ditunggu_kkk😎

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *